Jumat, 18 Januari 2013

Penanaman Nilai Budi Pekerti dalam Kehidupan Sehari-hari

            Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah budi pekerti, namun pengertian ini nampaknya hanyalah sebuah definisi yang hanya dapat kita temukan di literatur-literatur sekolah, padahal sejatinya nilai budi pekerti ini dapat di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan ranah individu, masyarakat, dan bernegara. Budi pekerti sendiri merupakan sebuah nilai yang akan mendasari seluruh perilaku kita dari segi etika, norma, tatakrama dsb. Semua nilai-nilai tersebut akan bernilai baik jika lahir dari budi pekerti yang telah dibina secara baik sehingga nantinya akan menghasilkan perilaku yang baik pula.
            Di lihat dari segi definisi, secara umum budi pekerti mempunyai arti yaitu moral dan kelakuan yang baik dalam menjalani kehidupan dan secara harfiah mempunyai pengertian perbuatan (Pekerti) yang dilandasi atau dilahirkan oleh Pikiran yang jernih dan baik (Budi) (Widiastini, 2010). Dengan definisi tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa pikiran dan perbuatan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Jika pikirannya baik, maka perbuatan yang akan dihasilkan pun akan baik pula karena menurut Syeikh Taqiyudin An-Nabhani kepribadian seorang individu di pengaruhi oleh pola pikir (aqliyah) dan nafsiyah (pola sikap) yang baik dan selaras. Agar tercipta pola pikir dan pola sikap yang selaras kita harus menanamkan nilai-nilai budi pekerti semenjak dini. Nilai-nilai budi pekerti sendiri mencakup 14 nilai-nilai yang kemudian tertulis dalam buku Pedoman Suasana Sekolah yang Kondusif dalam Rangka Pembudayaan Budi Pekerti Bagi Warga Sekolah yang diterbitkan oleh Depdiknas yaitu mencakup keimanan, ketakwaan, kejujuran, keteladanan, suasana demokratis, kepedulian, keterbukaan, kebersamaan, keamanan, ketertiban, kebersihan, kesehatan, keindahan, dan sopan santun.
            Nilai-nilai budi pekerti tersebut kemudian haruslah diketahui esensinya karena pada saat ini hal tersebut merupakan sebuah kebutuhan dalam rangka menghadapi era globalisasi yang secara definitif menurut Selo Soemardjan dalam carapedia.com “[g]lobalisasi adalah terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi antar masyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah yang sama”.  Dengan demikian, dengan adanya era globalisasi yang juga ditandai dengan seiringnya kemajuan teknologi, kita harus menyiapkan, minimal dari diri kita sendiri untuk menghadapi proses globalisasi yang harus disertai oleh kepribadian kita yang santun karena seperti yang kita ketahui bahwa masalah terbesar yang ada seiring dengan kemajuan teknologi di abad 21 ini adalah adanya degradasi moral yang tercermin dalam kejahatan ringan maupun besar yang melibatkan diri sendiri ataupun orang lain. Dengan demikian, nilai budi pekerti ini perlu dibangun pada abad ini untuk menyeleraskan kemajuan teknologi dan juga etika dari Sumber Daya Manusia nya. Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam hal ini tentunya harus melibatkan individu, masyarakat, dan negara yang terfokus pula pada lembaga formal dan non formal serta media sosial.
            Dalam aspek individu dan masyarakat (keluarga), budi pekerti ini mencakup hal-hal mendasar yang sangat diperlukan oleh individu yaitu kesadaran untuk bertingkah laku baik dan selalu menjaga nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai dasar sesungguhnya dapat diajarkan melalui media dan lembaga apapun serta akan lebih baik jika di ajarkan ketika kita masih dini oleh keluarga kita sendiri. Namun tak dapat dipungkiri, pada era globalisasi seperti ini, media menjadi sarana yang paling efektif untuk membentuk kepribadian individu baik media sosial seperti facebook, twitter, dan blog ataupun media pembelajaran berbasis penceritaan seperti dongeng dan mitos untuk anak-anak usia dini yang sejatinya telah ditanamkan oleh orang tua kita semenjak kita masih kecil. Selanjutnya, tugas kita pada saat ini adalah memilih nilai budi pekerti yang harus diprioritaskan dalam mengatasi permasalahan di abad ke-21 ini terutama dalam masalah degradasi moral ketika moral tidak diselaraskan dengan kemajuan teknologi. Dalam media sosial, kita bisa memilah grup-grup yang memotivasi kita agar menjadi lebih baik dan grup yang senantiasa memberikan tips-tips untuk menghadapi perkembangan zaman yang dinamis ini karena kita sadari , semakin banyak kita melihat dan mendengar tayangan yang bernilai positif, maka tingkah laku kita pun akan positif, namun apabila kita lebih sering melihat dan mendengar hal yang negatif, maka tingkah laku kita pun akan meniru hal-hal yang demikian. Sehingga, dalam dunia media sosial pun, interaksi menjadi bagian yang paling penting seperti hal nya di dunia nyata sehingga kita harus berhati-hati ketika kita berteman di dunia maya, karena secara tidak langsung hal tersebut dapat membentuk kepribadian kita, apakah akan berbudi pekerti luhur dalam arti menanamkan nilai-nilainya dan memahami esensinya ataukah sebaliknya, membentuk kepribadian kita yang tidak selaras dengan budi pekerti luhur.
            Ketika usia dini, sebenarnya nilai-nilai budi pekerti pun telah diajarkan oleh orang tua kita melalui dongeng dan mitos. Contohnya, kita tidak boleh menyisakan nasi di piring kita karena takut apabila ‘Dewi Sri’ yang terkenal sebagai dewi padi marah, padahal itu hanyalah mitos yang sebenarnya melalui cerita tersebut orang tua kita berusaha untuk menanamkan esensi dari salah satu nilai budi pekerti yaitu kebersihan dan tentunya selain cerita Dewi Sri masih banyak lagi contoh lain yang terjadi dikehidupan kita sehari-hari tanpa kita sadari.
            Oleh karena itu, pendekatan nilai-nilai budi pekerti harus diajarkan melalui beberapa pendekatan seperti keluarga dan media sosial selain individu sendiri yang harus menanamkan kesadaran yang tumbuh secara alami. Dalam hal ini, keluarga berfungsi untuk membina dan mengontrol segenap anggota keluarga agar memiliki nilai budi pekerti yang luhur. Keluarga memiliki peranan yang besar dalam membentuk karakter individu dengan cara yang komunikatif antaranggota keluarganya. Fungsi setiap anggota keluarga sangatlah penting seperti fungsi ayah, ibu, dan anak yang semuanya memiliki potensi untuk membentuk kepribadian satu sama lain. Ayah sebagai kepala keluarga merupakan orang pertama yang bertugas mendidik istri dan anak akan nilai-nilai budi pekerti dan ibu kemudian akan mengomunikasikan kembali pada anak serta anak dapat memberikan pengaruh pada lingkungan sekitar dimana ia berada akan pengajaran yang telah ia dapat dari keluarganya. Hal inilah yang nantinya akan membedakan pendekatan budi pekerti melalui keluarga dan pendidikan formal, yaitu dari segi komunikasi yang tidak memandang posisi ia dalam keluarga, namun fungsi mereka adalah sama-sama mengontrol agar nilai-nilai budi pekerti itu terimplementasi dalam keluarga mereka. Dengan demikian, keluarga  dalam hal ini  dapat disebut pendidikan non-formal yang artinya pengajaran tidak dilakukan melalui lembaga namun keluarga lah yang memegang aspek paling mendasar yaitu sebagai madrasah utama dari pengajaran, sehingga nantinya  kita pun akan mendapatkan dua hal yang berbeda dan saling melengkapi dari pendidikan non-formal dan formal.
             Dalam pendidikan formal, nilai budi pekerti dapat diperoleh melalui pengajaran guru ke muridnya yang terkadang berjalan satu arah saja antara keduanya. Namun, dalam pendidikan non-formal, komunikasi dapat berjalan dua arah dan tidak bersifat kaku sehingga pembelajaran akan terasa menarik tanpa batasan komunikasi seperti hal nya di lembaga pendidikan. Namun, kedua hal ini mempunyai kesamaan, yaitu baik guru di sekolah maupun orang tua dirumah harus memberikan teladan bagi murid dan anak-anaknya sebagai bekal agar mereka dapat menyampaikan esensi nya kepada lingkungan sekitarnya karena nilai-nilai budi pekerti pun ternyata dapat dibentuk melalui lingkungan. Kita sadari, bahwa  lingkungan yang positif akan menjadikan diri kita berkepribadian baik dan lingkungan yang negatif akan membentuk kepribadian kita menjadi tidak baik. Sehingga, kita pun harus dapat memilah hal-hal yang positif dan juga negatif bagi diri kita.
            Selain nilai individu dan masyarakat yang dalam hal ini mencakup keluarga serta lembaga pendidikan, salah satu faktor yang penting dalam membangun karakter yang berbudi pekerti luhur adalah adanya peran negara yang juga membantu dalam mengimplementasikan program ini. Negara dengan sifatnya yang memaksa harus tegas dalam memberikan sanksi bagi warga yang melanggar norma serta etika yang apabila dirasa sudah mengganggu kehidupan bermasyarakat. Negara pun harus memfasilitasi kebutuhan masyarakat agar terciptanya masyarakat yang berbudi pekerti luhur sehingga akan mengatasi masalah degradasi moral yang terjadi di abad ini.
            Dengan demikian, nilai-nilai budi pekerti luhur bukanlah nilai-nilai yang hanya tersimpan dalam literatur dan dihapal saja, namun juga perlu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari agar tercipta masyarakat yang juga menjunjung tinggi norma dan etika sehingga akan mengentaskan masalah-masalah sosial ringan dan berat pada abad ini. Pendekatan yang dapat dilakukan dalam rangka pembudayaan budi pekerti luhur ini tentunya harus melibatkan semua pihak, baik itu individu, masyarakat, dan negara terutama yang melibatkan lembaga formal dan non formal serta media sosial.
           
           

Daftar Pustaka

An-Nabhani, As-Syeikh Taqiyuddin. As- Syakhshiyah Al- Islamiyah. HTI Press, 2008.
Dr. Basuki BS, MM, M.Pd and Dr. Ismail Arianto, M.Pd. Pedoman Penciptaan Suasana Sekolah yang Kondusif dalam Rangka Pembudayaan Budi Pekerti Luhur bagi Warga Sekolah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2001.
Soemardjan, Selo. "Carapedia.com." 18 Januari 2013 .
Widiastini, Made. "arixtha.blogspot.com." 21 Desember 2010. 18 Januari 2013 .


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar